Apakah Anda ingin
milikmu sendiri
?
Pelajari lebih lanjut

Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan

Tingkat Indikator

Hasil

Rumusan Indikator

Persentase sampah padat yang dikelola sesuai dengan rencana pengelolaan sampah padat berkelanjutan yang berlaku

Tujuan Indikator

Indikator ini mengukur sejauh mana limbah padat yang dihasilkan oleh kegiatan proyek dikelola sesuai dengan praktik pengelolaan limbah yang telah disepakati, dengan tujuan mengurangi risiko terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Indikator ini berfokus pada apakah limbah dikelola dengan tepat, bukan pada pengukuran volume limbah secara tepat.

Cara Mengumpulkan dan Menganalisis Data yang Diperlukan

Tentukan nilai indikator dengan menggunakan metodologi berikut:

 

1) Tentukan cakupan limbah yang dimaksud: Identifikasi sumber-sumber utama limbah yang dicakup oleh indikator ini. Menurut panduan di ECHO, limbah tersebut harus berasal dari “fasilitas yang dikelola atau didukung langsung oleh mitra” (misalnya kantor, gudang, lokasi (re)konstruksi, fasilitas kesehatan, pusat komunitas, kamp, dan titik distribusi).

 

2) Jelaskan arti dari “dikelola sesuai dengan rencana pengelolaan limbah padat berkelanjutan”: Identifikasi pengaturan pengelolaan limbah berkelanjutan mana saja yang sudah ada. Hal ini mungkin dijelaskan dalam SOP, rencana kegiatan, atau prosedur logistik dan mungkin tidak berbentuk rencana tersendiri. Jika pengaturan tersebut belum ada (atau belum tertulis), sepakati, tentukan, dan dokumentasikan serangkaian dasar pengaturan, alat, sarana, dan proses pengelolaan limbah berkelanjutan minimum yang layak untuk proyek tersebut.

 

3) Perkirakan total limbah yang dihasilkan berdasarkan jenis fasilitas: Ketika limbah dihasilkan di berbagai fasilitas, mungkin tidak praktis untuk mengukur limbah secara terpisah untuk setiap fasilitas. Kelompokkan fasilitas berdasarkan jenisnya (misalnya, kantor, gudang, fasilitas kesehatan, lokasi (re)konstruksi, dll.) dan perkirakan jumlah total limbah yang dihasilkan untuk setiap jenis fasilitas selama periode pelaporan. Sangat penting bagi Anda untuk tetap menggunakan satu satuan yang konsisten di seluruh jenis fasilitas untuk perhitungan ini, seperti kg (disarankan jika memungkinkan) atau jumlah kantong standar (misalnya, kantong 60 L). Jika menggunakan kantong/tempat sampah, tentukan ukuran standarnya dan gunakan secara konsisten.

Pengukuran yang tepat tidak diwajibkan; namun, perkiraan harus didasarkan pada bukti terbaik yang tersedia (pengamatan, catatan, dan/atau pengukuran sampel), bukan semata-mata pada asumsi umum. Pilihlah salah satu pendekatan berikut dan terapkanlah secara konsisten di setiap jenis fasilitas:

   -Perkiraan berbasis wadah: Gunakan jumlah dan ukuran wadah atau kantong yang dikumpulkan, dikalikan dengan tingkat pengisian yang teramati atau umum (berdasarkan pemeriksaan acak atau pola pengumpulan rutin).

  -Pengambilan sampel dan ekstrapolasi dalam jangka waktu singkat: Ukur atau amati limbah yang dihasilkan selama periode singkat yang representatif (misalnya, satu hari atau satu minggu) di satu atau lebih lokasi, lalu ekstrapolasi hasilnya ke periode pelaporan.

- Perkiraan berdasarkan bukti: Gunakan pengamatan staf, frekuensi pengumpulan, catatan pengadaan (misalnya, berat kemasan berdasarkan spesifikasi produk), atau informasi dari pengumpul sampah untuk memperkirakan total sampah yang dihasilkan.

Jelaskan secara singkat dasar perhitungan perkiraan tersebut (misalnya, pemeriksaan acak, frekuensi pengumpulan data, wawancara dengan staf, periode pengambilan sampel) serta asumsi-asumsi utama yang mendasarinya.

4) Perkirakan proporsi sampah yang dikelola secara berkelanjutan berdasarkan jenis fasilitas: Untuk setiap jenis fasilitas, gunakan bukti sederhana seperti pengamatan, wawancara dengan staf, pengambilan sampel dalam jangka waktu singkat, atau pengaturan pengumpul sampah untuk memperkirakan proporsi sampah yang dikelola sesuai dengan praktik berkelanjutan yang telah disepakati selama periode pelaporan (misalnya, 25% / 50% / 75%).

5) Untuk setiap jenis fasilitas, hitunglah jumlah limbah yang dikelola secara berkelanjutan:

- Pertama, hitung jumlah total limbah yang dihasilkan untuk setiap jenis fasilitas (misalnya, total limbah yang dihasilkan oleh gudang) selama periode pelaporan.

- Kemudian, kalikan angka tersebut dengan perkiraan proporsi yang dikelola sesuai dengan praktik berkelanjutan yang telah disepakati (misalnya, 400 kg × 50% = 200 kg).

6) Hitung nilai indikator:

- Hitung jumlah total limbah yang dihasilkan dari semua jenis fasilitas (Langkah 3).

- Hitung total limbah yang dikelola secara berkelanjutan dari seluruh jenis fasilitas (Langkah 5).

- Bagilah jumlah total limbah yang dikelola secara berkelanjutan dari seluruh jenis fasilitas dengan jumlah total limbah yang dihasilkan dari seluruh jenis fasilitas.

- Kalikan hasilnya dengan 100 untuk mengubahnya menjadi persentase.

Pisahkan berdasarkan

Data tersebut dapat dipisahkan berdasarkan jenis fasilitas yang menghasilkan limbah dan kriteria lain yang relevan dengan konteks intervensi Anda.

Catatan Penting

1) Pastikan tetap praktis: Indikator ini tidak dimaksudkan untuk mengharuskan dilakukannya audit limbah secara mendetail atau penimbangan yang tepat dari seluruh limbah yang dihasilkan. Perkiraan yang kredibel, terdokumentasi dengan baik, dan didasarkan pada bukti dapat diterima dan lebih disarankan daripada tidak menggunakan indikator ini hanya karena dianggap “terlalu sulit”.

 

2) Jangan menghitung rata-rata “persentase yang dikelola” berdasarkan jenis fasilitas, karena setiap jenis fasilitas tidak menghasilkan jumlah limbah yang sama. Penghitungan rata-rata akan memberikan bobot yang sama, misalnya, antara kantor dan gudang—padahal gudang biasanya menghasilkan limbah jauh lebih banyak—sehingga hasilnya bisa sangat menyesatkan.

3) Gunakan satu satuan yang konsisten untuk semua jenis fasilitas (misalnya, kg, atau ukuran “kantong/tong standar” yang telah ditentukan). Jangan mencampurkan satuan kecuali jika Anda mengonversinya.

4) Sebuah rencana bisa sederhana: Jika belum ada rencana pengelolaan limbah, sepakati dan dokumentasikan serangkaian praktik dasar penanganan limbah berkelanjutan yang minimal dan dapat diterapkan dalam proyek tersebut. Misalnya: tentukan siapa yang bertanggung jawab atas pengelolaan limbah di setiap fasilitas; tetapkan cara pengumpulan dan penyimpanan limbah secara aman; sepakati pemisahan limbah dasar jika memungkinkan; tetapkan jalur pembuangan dan tanggung jawab terkait; serta simpan bukti sederhana seperti jadwal pengumpulan.

 

5) Kelompokkan lokasi jika diperlukan: Apabila limbah dihasilkan di beberapa fasilitas, kelompokkan fasilitas-fasilitas tersebut dan terapkan satu metode estimasi per kelompok agar pengumpulan data tetap dapat dilakukan. Gunakan satuan pengukuran yang sama di seluruh kelompok.

 

6) Fokus pada praktik dan kemajuan: Indikator ini mengukur apakah pengelolaan limbah dilakukan sesuai dengan praktik yang telah ditetapkan (Langkah 2) dan dapat digunakan untuk memantau kemajuan dari waktu ke waktu, meskipun dimulai dari pengaturan yang sederhana.

 

7) Jadilah transparan: Dokumentasikan secara ringkas pendekatan estimasi, dasar-dasar yang menjadi landasan estimasi tersebut (misalnya, pemeriksaan acak, frekuensi pengumpulan data, pengambilan sampel), serta segala keterbatasan atau asumsi utama.

 

8) Pertimbangkan semua jenis limbah yang relevan ( organik dan non-organik) yang dihasilkan dalam lingkup tersebut.

9) Indikator ini digunakan oleh Direktorat Jenderal ECHO sebagai salah satu Indikator Hasil Utama.

Akses Panduan Tambahan

Panduan ini disusun oleh People in Need (PIN) berdasarkan petunjuk yang diberikan oleh DG ECHO ©
Usulkan Perbaikan